Tradisi Mengenang Tenggelamnya Desa Trasmambang, 5 Desa di Lebong Gelar Kedurei Apem

0
730
Prosesi Kedurei Apem di Lebong

Minggu,28 Oktober 2018
Kontributor : Bambang S

LEBONG – Ragam tradisi dan budaya di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu menurut pandangan tokoh setampat memang patut dijaga kelestariannya. Salah satu bentuk kearifan lokal yang masih melekat di daerah itu yakni Kedurai Apem. Semacam ritual adat yang dipercaya untuk mengenang tenggelamnya Desa Trasmambang. Secara turun temurun masarakat di 5 desa masih menggelar ritual tersebut. Antara lain, Desa Semelako, Bungin, Talang Kerinci, Dan Desa Karang Dapo.

Dalam pelaksanaannya, kue apem yang dimasak dari rumah, kemudian dikumpulkan di lokasi tepatnya di bawah pohon beringin kuning di daerah Pasir Lebar, atau lebih dikenal daerah Sabo di Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong. Selanjutnya dilakukan semacam ritual oleh juru kunci, usai itu kue apem direbut oleh masyarakat dilanjutkan dengan aksi saling lempar menggunakan kue apem tersebut.

Pada Minggu (28/10), upacara Kedurai Apem diselenggarakan oleh warga Semelako atas di Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong. Ritual diadakan di kawasan Pasir Lebar atau lebih dikenal dengan sebutan Sabo. Diikuti sejumlah desa, antara lain, Desa Semelako Satu, Semelako Dua, Semelako Tiga, Danau Liang, Bungin, Talang Kerinci, Karang Dapo, Dan Desa Pungguk Pedaro.

Rudy (17) warga Desa Semelako Dua, Kecamatan Lebong Tengah, yang ikut hadir menyaksikan acara tersebut menyampaikan, dia sangat senang dan setuju dengan adanya gelaran tersebut, namun menyayangkan akses jalan menuju lokasi masih perlu perbaikan yang penuh bebatuan, ditambah lagi ketika cuaca panas tidak ada tempat berteduh.

“Senang dengan adanya acara sepeti ini, ramai orang yang datang, juga tercipta suasana keakraban. Sayangnya kondisi jalan menuju kesini masih sangat memprihatinkan, ditambah lagi di lokasi ini tidak ada tempat berteduh,” ungkap Rudy.

Sementara itu, Kepala Desa Semelako Atas, Rizen mengatakan, acara Kedurai Apem selalu dilaksanakan setiap tahunnya dan akan tetap dilestarikan mengingat kearifan lokal merupakan kekayaan budaya suatu daerah dan tidak semua daerah memilikinya.

Acara ini, kata dia, biasanya ramai pengunjung setiap tahunnya, untuk itu menurut Rizen perlu adanya perbaikan akses jalan menuju ke lokasi karena kondisi sekarang akses ke lokasi jalannya masih buruk dan tidak ada tempat berteduh di lokasi pergelaran.

“Sayangnya, akses jalan menuju lokasi masih buruk, tahun depan kita upayakan untuk dibangun, dananya darimana kita belum tahu apakah dari dana desa atau sumber dana lainnya,” kata Rizen.

Soal sumber anggaran penyelenggaraan acara tersebut berasal dari sumbangan beberapa kepala desa dan camat. Dalam acara tersebut terlihat hadir Camat Bingin Kuning Ir. Eva Gustiantina, beserta beberapa Kepala Desa, tokoh adat dan ratusan warga lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here