Dilepas Bupati, Festival Ogoh-ogoh Sedot Perhatian Masyarakat Bengkulu Utara

0
271
Tampak, Bupati BU, Ir Mian membaur bersama msarakat dengan menaiki tandu pengusung ogoh-ogoh

Senin, 4 Maret 2019
Pewarta : Herman

BENGKULU UTARA – Kemeriahan festival ogoh-ogoh yang diperagakan dalam pawai pada Senin (4/3/2-19) di Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara cukup menarik perhatian masyarakat setempat. Kegiatan yang sudah menjadi bagian pada setiap perayaan hari raya Nyepi bagi umat Hindu ogoh-ogoh ini dihadiri pula oleh Bupati Bengkulu Utara, Ir Mian didampingi Wabup Arie Septia Adinata, beserta segenap pejabat pemerintah juga unsur FKPD di daerah itu.

Festival semakin meriah di alun-alun Rajo Malim Paduko

Pantauan awak media ini, tidak kurang dari 8 ogoh-ogoh yang berasal dari Desa Rama Agung, Kecamatan Arga Makmur, dari Desa Sumber Agung, Kecamatan Arma Jaya dan Desa Kuro Tidur turut memeriahkan festival budaya dalam menyongsong Hari Raya Nyepi Tahun 1941 Saka yang jatuh pada Kamis, 7 Maret mendatang.

Pelaksanaan kegiatan festival ogoh-ogoh di Bengkulu Utara tahun ini dilaksanakan di Balai Pertemuan Banjar Adat Dharma Shanti Desa Rama Agung, Senin (4/3/2019), kemudian ogoh-ogoh diarak menuju Alun-alun Rajo Malim Paduko (RMP) Arga Makmur. Disini digelar sejumlah tarian menarik sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan tersebut.

Bupati, Wabup beserta segenap pejabat disambut oleh tarian adat yang diperagakan oleh panitia festival

Sebelum melepas pawai, Bupati Bengkulu Utara, H. Ir. Mian menyampaikan arahannya di depan Kantor Samsat Arga Makmur menuju Alun-alun Rajo Malim Paduko. Bupati menyampaikan terimakasih kepada keluarga besar masyarakat hindu yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta segenap elemen masyarakat Arga Makmur.

“Kedepan ini bukan hanya ogoh-ogoh yang akan kita kolaborasi, mungkin hari pertama ogoh-ogoh ada kesenian-kesenian lain sehingga ada festival budaya Kabupaten Bengkulu Utara yang dimulai dari festival ogoh-ogoh,” kata Mian.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Putu Sura Artika, SKM, MM menjelaskan makna diadakannya pawai dan festival ogoh-ogoh supaya pelaksanaan nyepi tidak ada gangguan. Kegiatan ini, kata dia memberikan semacam sesembahan atau sesajen kepada para Buta Kala yang dilambangkan dengan ogoh-ogoh.

“Supaya pelaksanaan hari raya Nyepi mereka (Buta Kala) itu tidak mengganggu sehingga pelaksanaan nyepi bisa berjalan seperti yang kita harapkan,” jelas Putu. [ADVERTORIAL]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here