HeadlineLebong

Mode Tanam Dua Kali di Lebong Gagal Total, Padi Ludes Diserang Ribuan Tikus

264
×

Mode Tanam Dua Kali di Lebong Gagal Total, Padi Ludes Diserang Ribuan Tikus

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi

Sabtu, 15 September 2018
KONTRIBUTOR : BAMBANG. S

LEBONG – Program Mode Tanam II (MT–II) yang merupakan program unggulan yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong gagal total. Hanya dalam beberapa malam saja tanaman padi sawah di Desa Semelako I, Kecamatan Lebong Tengah mengalami gagal panen, lantaran diserang oleh ribuan tikus.

Salah seorang warga petani kepada awak media mengemukakan, hampir semua yang ikut tanam dua kali mengalami gagal panen. Padi mereka yang masuk usia 2 bulan menjelang berisi ludes diserang hama tikus. Lebih parahnya lagi, kata Sumarni, satu bidang sawah milik mereka bisa habis dalam beberapa malam saja.

“Sebenarnya tidak masuk di akal, tapi itulah yang terjadi. Terlepas dari mitos yang berkembang tapi saya lihat hama tikus ini sungguh luar biasa. Tikusnya kecil-kecil tapi jumlahnya luar biasa, bahkan mungkin mencapai ribuan jum;lahnya,” papar Sumarni.

Lebih jauh lagi, Sumarni menceritakan segala upaya sudah dilakukan oleh warga petani setempat untuk membasmi hama tikus, namun tetap tidak membuahkan hasil.

“Harapan kami pihak pemerintah daerah khusunya Dinas Pertanian bisa menepati janjinya. Jika yang ikut program MT-II gagal panen, maka akan diberi kompensasi sebesar enam juta rupiah per hektare,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Emi Wati,SE,M.Ak melalui Kabid Penyuluhan Jimi Tri Susilo,SP ketika dikonfirmasi membenarkan, bahwa program MT-II hampir gagal total. Menurut dia, hal ini masih terus dipelajari dan sebagai pembelajaran kedepannya.

“Kalau saya lihat kegagalan ini tidak lepas dari sosial budaya yang melekat di masyarkat yang masih percaya dengan mitos, dan tidak mau serentak mengikuti program MT-II. Sehingga memberi cela kepada hama tikus berkembang dan menyerang ke satu titik saja,” kata Jimi.

Faktor lain yang mempengaruhi, kata Jimi, adalah iklim. Hama tikus lebih cepat berkembang di musim hujan sementara intensitas hujan di tahun 2018 ini cukup tinggi.

“Kalau masalah tekhnis, kami dari Dinas Pertanian sudah melakukan berbagai upaya, seperti menyiapkan bibit unggul, menyediakan pupuk, menyediakan herbisida dan insektisida tapi apa daya hasilnya tetap belum memuaskan,” katanya.

Jimi berharap, dengan kejadian ini jangan menyerah dan harus tetap berusaha. Pihaknya akan selalu mencari inovasi baru untuk mengatasi masalah tersebut. Kepada para petani yang mengalami gagal panen lebih dari 75 persren jangan khawatir, yang ikut program MT-II sudah diikutsertakan Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP).

“Ketentuannya, apabila tanaman mengalami kerusakan atau kegagalan diatas 75 persen maka akan diberi kompensasi sebesar enam juta rupiah per hektare. Tapi harap bersabar karena harus melalui proses, kita data dulu, kemudian kita laporkan ke pihak asuransi. Kemudian mereka akan menurunkan tim survey baru hasilnya akan keluar setelah 45 hari,” pungkas Jimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *