Selama 48 Jam Kunjungi Tempat Wisata Menarik di Kota Bengkulu

0
372
Memiliki ombak yang tenang dan pemandangan matahari terbenam yang indah membuat pengunjung betah berlama-lama bermain di pinggir Pantai Jakat.

BENGKULU Mengunjungi Bengkulu ibarat membuka peti berisi kepingan sejarah. Jejak pengasingan Soekarno bertaburan. Benteng warisan Inggris masih berdiri gagah. Tapi kota ini juga punya tawaran yang menarik dari masa kini, mulai dari es durian hingga kerajinan berbahan kulit lantang.

Laporan ini ditulis oleh Harry Siswoyo, kesan dia selama 48 jam mengunjungi tempat-tempat wisata menarik di Bengkulu.

Masjid Jamik merupakan cagar budaya karya arsitektural Bung Karno selama masa pengasingan di Bengkulu.

Masjid Jamik
Rumah ibadah ini terletak di jantung kota, persis di tengah-tengah delta yang diapit dua jalan raya. Atapnya berbentuk limas kerucut tumpang tiga yang dilapisi seng merah dan ditopang oleh empat pilar bermotif flora. Masjid yang berdiri sejak abad ke-18 ini dulu bernama Surau Gedang. Usai direnovasi, namanya direvisi jadi Masjid Jamik (Jl. Letjen Suprapto, Tengah Padang) oleh Presiden Soekarno saat diasingkan di Bengkulu.

Di bagian depan Pasar Panorama terdapat banyak penjual buah segar.

Pasar Panorama
Pasar tradisional ini beroperasi nyaris 24 jam saban harinya, tapi waktu tersibuknya bergulir sejak dini hari hingga pukul 09:00. Macet, becek, dan negosiasi riuh antara pedagang dan tauke adalah pemandangan unik di sini. Menyusuri Pasar Panorama (Jl. Semangka Raya, Singaran Pati), Anda akan menemukan sayur yang baru dipanen, ikan yang baru sejenak meninggalkan laut, hingga daging segar dan barang bekas. Di antara dagangan itu, nikmati keramaian yang seru, kacau balau yang mengesalkan, serta suara harapan dari para pedagang.

Tungku Pendap Cik Timah yang berbentuk unik ini yang diyakini dapat menambah kelezatan pendap..

Pendap Cik Timah
Lebih dari 20 tahun Cik Timah meracik pendap, penganan berisi ikan, kelapa muda parut, kunyit, cabai, dan rempah. Sekilas mirip pepes memang. Bedanya, pendap Bengkulu dibebat 30 helai daun keladi yang direbus selama delapan jam. Pendap Cik Timah (Jl. Enggano 25, Pasar Bengkulu) memproduksi hanya 150 pendap setiap sepekan sekali dan menjajakannya Rp15 ribu per porsi. Untuk mencicipinya, Anda kerap harus bersabar menunggu antrean. Jika rela sedikit “curang,” mampir saja ke rumah Cik Timah yang terkoneksi dengan kedainya. Pintunya selalu terbuka dengan segala keramahannya.

Fajri Craft merupakan salah satu tempat penjualan kerajinan kulit lantung khas Bengkulu yang terletak di Sentra Penjualan Oleh-Oleh, Anggut Atas, Bengkulu.

Fajri Craft
Dulu, berkat tubuhnya yang lentur dan teksturnya yang lembut, kulit kayu lantung lazim dipakai sebagai bahan pakaian. Kini, kulit kayu berwarna kecokelatan ini diracik menjadi beragam produk kriya, seperti yang terlihat di Fajri Craft (Jl. Soekarno-Hatta, Ratu Samban). Bengkel kreatif ini menjajakan antara lain tas, kotak tisu, pigura, hingga lembaran lantung untuk dimodifikasi dengan harga Rp35 ribu untuk ukuran 1 x 1 meter. Dagangan yang terakhir ini biasanya digemari orang Papua sebagai bahan pembuat noken.

Aswin, seorang perajin dol yang sedang mencungkil bonggol pohon kelapa yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan alat musik tradisional Bengkulu tersebut.

Perajin Dol
Dol, alat musik pukul yang terbuat dari bonggol kelapa, rutin dimainkan dalam Festival Tabot atau pentas tarian tradisional. Beduk versi Bengkulu ini konon diciptakan oleh orang-orang Madras yang dibawa Inggris untuk membangun Benteng Marlborough. Tak mudah membuatnya, mungkin karena itu perajinnya hanya segelintir, salah satunya Aswin (Jl. KH Ahmad Dahlan 12, Teluk Segara). Selama belasan tahun berkarya, Aswin sudah memproduksi ribuan dol, beberapa tersimpan di luar negeri. Dol buatannya juga bisa dibeli sebagai suvenir di galerinya. Versi kecilnya, sekitar 250.000 per buah, dirangkai dari plastik yang dibalut kulit hewan.

Es Krim Durian tradisional yang disajikan meriah dan menggiurkan.

Pondok Durian
Dalam peta produsen durian, Bengkulu punya tempat yang dihormati. Durian dari sini sukses menembus pasar yang luas. Tahun lalu, namanya kembali melambung usai sebuah pesawat ketahuan mengangkut dua ton durian Bengkulu ke Jakarta, hingga diprotes penumpang yang tak tahan dengan baunya. Di Pondok Durian Bengkulu (Jl. Meranti Raya 03 A-B, Ratu Agung), durian khas lokal dihidangkan dengan cara yang meriah dan menggiurkan: bersama es krim puter, ketan putih, potongan avokad, serta agar-agar merah. Pondok Durian melayani tamu dari pukul 10:00 hingga 20:00

Benteng Marlborough terlihat mirip kura-kura jika dilihat dari ketinggian. Peta dan foto udara dapat dilihat dari beberapa sudut benteng.

Benteng Marlborough
Dengan luas sekitar 44 ribu meter persegi dan dikawal empat bastion berisi meriam, Benteng Marlborough (Jl. Benteng, Teluk Segara) merupakan salah satu pertahanan terkuat Inggris di Asia Tenggara. Begitu perkasa hingga ia terus bertahan meski usianya sudah 300 tahun. Benteng yang berbentuk kura-kura jika dilihat dari ketinggian ini mulai melayani pengunjung dari pukul 09:00-16:00. Sejumlah ruang bekas sel tahanan telah dijejali diorama. Tiap hari libur, benteng ini dipadati warga lokal yang ingin menyelami sejarah sembari menyaksikan senja di Samudra Hindia.

Generasi kedua pemilik Warung Bunian di antara barang-barang antik yang ada di sana.

Kedai Antik Ming Merah
Ming Merah dan Warung Bunian menjadi nama pilihan almarhum Herman untuk bisnis yang dirintisnya secara sembunyi-sembunyi pada 1978 ini. Dalam interiornya yang senantiasa lengang terpajang antara lain guci renta, porselen retak, piring keramik bermotif, lukisan penuh debu, serta pigura lapuk. Ming Merah (Jl. Benteng 8, Teluk Segara) kini dikelola oleh Roslaini, istri Herman. Kedai antik satu-satunya di Bengkulu ini berlokasi persis di samping Fort Marlborough dan biasanya buka dari pukul 08:00 hingga 17:00.

Malabero merupakan kelurahan yang wilayahnya terletak di pesisir pantai, sehingga peduduknya banyak yang bekerja sebagai nelayan.

Kampung Malabero
Letaknya hanya selemparan batu dari Fort Marlborough. Kedekatan itu tecermin pula dalam namanya. Malabero adalah cara warga lokal melafalkan Marlborough. Berkunjung ke sini, kita bisa menyaksikan kehidupan para nelayan. Setiap petang, Kampung Malabero (Jl. Pariwisata, Teluk Segara) ramai oleh para nelayan yang berkumpul, memperbaiki jaring, memoles perahu, atau menjajakan ikan kering dengan harga murah untuk buah tangan.

Menghabiskan malam di sekitar Kampung Cina.

Kampung Cina
Pintunya dikangkangi sebuah gapura megah berukir naga raksasa. Usai melewatinya, ada lampion yang bergelantungan di antara bangunan. Dulu, Kampung Cina (Jl. Mayjen DI Panjaitan, Teluk Segara) adalah salah satu motor ekonomi kota. Ratusan orang Tionghoa bermukim dan berbisnis di sini. Kini, pecinan ini terbilang lengang. Sisa bangunan tua dan kelenteng hanya ramai ketika hari libur atau hari besar. Kunjungi kawasan ini pada petang hari. Selain bisa menikmati matahari senja, kita bisa bertemu anak-anak muda lokal yang kongko sembari ngopi.

Memiliki ombak yang tenang dan pemandangan matahari terbenam yang indah membuat pengunjung betah berlama-lama bermain di pinggir Pantai Jakat.

Pantai Jakat
Saban sore, ratusan orang menyemuti kawasan Pantai Jakat (Jl. Bencoolen, Teluk Segara) untuk menikmati ombak yang tenang dan pasirnya yang landai. Di sini ada banyak penyewaan ban warna-warni untuk berenang di laut. Seliweran penjaja sate udang tepung atau penjual jagung bakar membuat tempat ini serasa di Bali, minus turis berbikini. Jangan khawatir dengan air bersih, sebab di warga sekitar telah menyediakan banyak sarana bilas dengan air tawar.

Oleh : Harry Siswoyo
Foto, oleh : Muhammad Ikhsan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here