Rabu, 10 Oktober 2018
Pewarta : Jhon
KAUR – Kondisi yang dialami oleh keluarga Hasan Basri (45) di Desa Bakal Makmur Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, propinsi Bengkulu, kian hari semakin memprihatinkan. Bukan hanya anak-anaknya yang terpaksa putus sekolah, lantaran kekurangan, untuk makan sehari-hari saja sudah sangat kesulitan.
Mirisnya, sekalipun demikian, belum ada wujud perhatian dari pihak pemerintah daerah setempat, bahkan upaya untuk mencarikan jalan keluarnya saja belum dilakukan. Hal itu diakui oleh Camat Maje, Ahmad Marzuki. Kata Camat memang hingga saat ini belum ada bantuan apapun yang diberikan kepada keluarga Hasan Basri.
“Bantuan dari pihak pemerintah, khususnya kecamatan Maje belum ada samasekali. Ada bantuan alakadarnya pernah kita sampaikan bersifar pribadi,” kata Camat.
Sedangkan kondisi Hasan Basri selaku tulang punggung keluarga, telah dua tahun terbaring sakit lumpuh akibat kecelakaan ketika bekerja upahan mengangkut kayu. Untuk sekedar menahan lapar dari hari ke hari hanya mengandalkan istrinya Hartati (40) yang mengais rezeki secara serabutan.
“Sekitar satu setengah tahun yang lalu, tiba-tiba orang mengotong suami saya ke rumah dalam keadaan tidak sadarkan diri, Lalu di bawa ke rumah sakit Ke Bengkulu. Dengan menguna kan BPJS umum. Karena kondisinya parah sehingga tim medis angkat tangan dan tidak bisa menanganinya,” tutur Hartati kepada awak kontrastoday.com di kediamannya.
Lebih lanjut Hartati menceritakan, suaminya kemudian dirujuk ke RS di Jakarta, ketika itu masih dalam tanggungan BPJS, serta dibantu pula oleh sanak saudara di desa. Namun, setelah beberapa bulan berada di jakarta, mereka kehabisan bekal untuk biaya hidup sehari-hari, sehingga memutuskan pulang. Waktu itu, kata dia, suaminya masih menjalani kontrol secara rutin.
“Kondisi suami saya semakin memburuk disaat iuran BPJS menunggak, dan dinyatakan tidak aktif. Sehingga untuk menjalani kontrol tidak bisa lagi. Untuk sehari-hari kami hanya mendapat belas kasihan tetangga. Sedangkan anak-anak sudah tidak sekolah lagi,” ungkap Hartati.
Ditambahkan oleh dia, anak pertamanya sudah putus sekolah, anak kedua, yang baru saja masuk SMA juga terpaksa putus sekolah. Demikian pula dengan anak bungsunya yang masih duduk di kelas I SD akan mengalami nasib serupa, karena memang betul-betul tidak ada biaya samasekali.
“Kami sangat mengharapkan kepada Bapak-bapak atau ibu-ibu para dermawan, bantulah kami, kasihanilah anak-anak kami,” harap Hartati.
Baca juga : Dua Tahun Tak Berdaya, Anak-anak Putus Sekolah, Warga Miskin di Kaur Ini Butuh Uluran Tangan
























